Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Abdul Amir Khattat, Wakil Pengelola Sekolah Tinggi Keagamaan Isfahan, rabu malam (24/6) di hadapan para pelayat Husaini di rombongan para syuhada dari Hay'at Bani Fatimah (s) di Lapangan Syuhada Isfahan, dengan merujuk pada perang agresi terbaru terhadap Republik Islam Iran, menyatakan: Musuh memasuki medan perang dengan mengira akan menimbulkan keresahan internal, memecah belah negara, dan melemahkan sistem Islam, namun kehadiran rakyat dan keperkasaan Republik Islam menggagalkan seluruh perhitungan mereka.
Ia menambahkan: Musuh menduga akan mencapai tujuannya dalam waktu singkat dan dengan dukungan beberapa kalangan di dalam negeri, akan menciptakan kondisi ketidakstabilan dan keruntuhan, tetapi bangsa Iran dengan kewaspadaan dan kohesi, menggagalkan rencana-rencana ini.
Wakil Pengelola Sekolah Tinggi Keagamaan Isfahan, dengan merujuk pada sejarah perilaku hegemonik Amerika Serikat di dunia, menyatakan: Amerika Serikat selalu berupaya memaksakan kehendaknya kepada bangsa-bangsa dan telah memainkan peran yang menentukan di banyak negara, namun saat ini, dalam menghadapi bangsa Iran, mereka menghadapi kondisi yang berbeda dan tidak mampu mencapai tujuannya.
Ia menegaskan: Apa yang saat ini terlihat di kancah internasional, menunjukkan ketidakmampuan musuh dalam mewujudkan tujuannya di hadapan perlawanan bangsa Iran.
Kepercayaan Diri Rakyat; Pencapaian Terpenting di Hari-Hari Sulit
Hujjatul Islam wal Muslimin Khattat menyatakan bahwa salah satu pencapaian terpenting dari peristiwa-peristiwa terkini adalah penguatan semangat kepercayaan diri di tengah masyarakat. Ia menegaskan: Bangsa Iran sekali lagi menyadari bahwa setiap kali mereka bertindak dengan persatuan, kebersamaan, dan kehadiran di medan perjuangan, mereka akan mampu menggagalkan rencana-rencana musuh yang paling rumit sekalipun.
Ia melanjutkan: Pengalaman berharga ini menunjukkan bahwa kepercayaan pada kemampuan dalam negeri dan ketergantungan pada potensi nasional merupakan modal terpenting negara dalam melewati berbagai krisis.
Wakil Pengelola Sekolah Tinggi Keagamaan Isfahan, dengan merujuk pada pesan-pesan gerakan Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as), menyatakan: Seruan abadi "هيهات منا الذلة" (Jauh bagi kami kehinaan) tetap menjadi inspirasi bagi bangsa Iran, dan semangat mencari kemuliaan, kemerdekaan, serta keteguhan dalam menghadapi penindasan bersumber dari ajaran Karbala (Asyura).
Ia mengingatkan: Jika saat ini bangsa Iran bertahan menghadapi tekanan dan ancaman, maka perlawanan ini berakar pada budaya Asyura dan ajaran Ahlulbait (as).
Hujjatul Islam wal Muslimin Khattat, dengan merujuk pada sujud di akhir Ziarah Asyura, menyatakan: Satu-satunya ziarah yang diakhiri dengan sujud syukur adalah Ziarah Asyura, dan hal ini mengandung pesan-pesan mendalam bagi kehidupan individu dan sosial para mukmin.
Beliau, dengan membacakan bagian dari sujud Ziarah Asyura, «اللَّهُمَّ لَکَ الْحَمْدُ حَمْدَ الشَّاکِرِینَ لَکَ عَلَی مُصَابِهِمْ، الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَی عَظِیمِ رَزِیَّتِی»
(Ya Allah, segala puji bagi-Mu, pujian orang-orang yang bersyukur kepada-Mu atas musibah mereka, segala puji bagi Allah atas besarnya cobaan yang menimpaku), menyatakan: Bagian ini mengajarkan kepada manusia bahwa bahkan di tengah musibah dan kesulitan sekalipun, seseorang dapat melihat kebaikan, keberkahan, dan hikmah ilahi.
Wakil Pengelola Sekolah Tinggi Keagamaan Isfahan mengungkapkan: Al-Qur'an yang mulia juga dengan ungkapan «إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ یُسْرًا» (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan) menunjukkan fakta bahwa di samping setiap kesulitan, terdapat kelapangan dan kemudahan, dan banyak kesulitan dapat menjadi sarana pertumbuhan dan peningkatan derajat.
Beliau, dengan merujuk pada kerugian dan kepahitan akibat perang agresi terakhir, mengatakan: Gugurnya sejumlah pasukan yang beriman, kerugian material, dan dampak sosial merupakan sebagian dari konsekuensi pahit peristiwa ini, namun di samping musibah-musibah tersebut, tercapai pula pencapaian-pencapaian penting seperti kohesi nasional, meningkatnya semangat perlawanan, kepercayaan diri publik, dan terbukanya kelemahan musuh.
Hujjatul Islam wal Muslimin Khattat menegaskan: Para mukmin hendaknya, sebagaimana ajaran Ziarah Asyura, di samping menyaksikan kesulitan-kesulitan, juga melihat kebaikan-kebaikan dan keberkahan yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa.
Urgensi Menjaga Nilai-Nilai Budaya dan Sosial
Wakil Pengelola Sekolah Tinggi Keagamaan Isfahan, dalam menjawab pertanyaan mengenai kondisi hijab dan kesopanan (tutup aurat) di masyarakat, mengingatkan: Sekolah tinggi keagamaan (hawzah) di bidang ini menjalankan dua misi dasar, yaitu pembudayaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan hukum.
Beliau mengabarkan tentang diadakannya berbagai pertemuan dengan pejabat yudikatif, kepolisian, dan eksekutif provinsi, dan menambahkan: Dalam pertemuan-pertemuan ini, ditekankan tentang urgensi menghadapi pelanggaran norma-norma yang terorganisasi dan menjaga nilai-nilai agama dan budaya masyarakat.
Hujjatul Islam wal Muslimin Khattat, dengan merujuk pada pertemuan-pertemuan yang telah dilakukan dengan pejabat provinsi, menyatakan: Dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan berbagai pejabat, termasuk pejabat kepolisian provinsi, isu hijab dan kesopanan serta cara menghadapi pelanggaran norma-norma sosial telah dibahas dan dikaji, dan sekolah tinggi keagamaan akan terus mengupayakan terwujudnya tuntutan-tuntutan budaya masyarakat.
Beliau, dengan mengapresiasi kegiatan-kegiatan budaya dan keagamaan Hay'at Bani Fatimah (sa), menegaskan: Hay'at ini merupakan salah satu komunitas yang berpengaruh dan memiliki akar kuat di Isfahan, yang dengan mempersembahkan lebih dari 216 orang syuhada, telah memainkan peran penting dalam menjaga cita-cita Revolusi Islam dan menyebarluaskan budaya pengorbanan serta kesyahidan.
Komentar Anda